Informasi Umum
Pertama kali diterbitkan dalam Annales du Jardin Botanique de Buitenzorg volume 5: halaman 39 (tahun 1885). Sebaran alami spesies ini mencakup Semenanjung Thailand hingga wilayah Malesia. Tumbuhan ini merupakan pohon yang tumbuh terutama di bioma hutan tropis basah. Nama lokalnya di Indonesia adalah nagasari, balam bakulo, balam pucung, nyatoh terung, pulai pipit. Nama ilmiah Palaquium rostratum diperkenalkan oleh seorang botanis bernama Friedrich Anton Wilhelm Miquel pada tahun 1885.
Status konservasi adalah Least Concern
Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magniliopsida
Ordo : Ebenales
Famili : Sapotaceae
Genus : Palaquium
Spesies : Palaquium rostratum (Miq.) Burck
Habitat
Merupakan jenis asli dari hutan hujan tropis dataran rendah. Tumbuh optimal pada ketinggian antara 0 hingga 800 meter di atas permukaan laut. Dapat ditemukan mulai dari dataran rendah sampai ke perbukitan tropis. Membutuhkan iklim tropis basah dengan curah hujan tahunan tinggi (± 2.000–4.000 mm/tahun).Tumbuh baik pada suhu hangat dan kelembapan tinggi sepanjang tahun. Tidak toleran terhadap musim kering panjang. Menyukai tanah lempung hingga lempung berpasir yang gembur, subur, dan memiliki drainase baik. Umumnya tumbuh di tanah aluvial, tanah liat berpasir, atau tanah merah podsolik di hutan primer. Tidak toleran terhadap genangan air dalam waktu lama. Merupakan pohon khas hutan hujan tropis primer dan jarang ditemukan di hutan sekunder atau kawasan terganggu. Menempati lapisan kanopi tengah hingga atas dalam struktur tegakan hutan. Sering tumbuh bersama spesies lain dari famili Dipterocarpaceae, Sapotaceae, dan Lauraceae.Tidak memerlukan banyak cahaya saat masih muda (toleran naungan), namun membutuhkan cahaya penuh saat dewasa.
Akar (Radix)
Sistem akar terdiri dari akar tunggang yang dalam dan kuat. Diperkuat oleh akar lateral mendatar di dekat permukaan tanah. Sering menghasilkan akar banir (akar papan) di permukaan tanah, berfungsi sebagai penopang pohon besar dan tinggi.
Batang (Caulis)
Tinggi pohon dapat mencapai 25–40 meter, dengan diameter hingga 80 cm. Batang tegak, lurus, silindris, seringkali tanpa cabang panjang di bagian bawah. Kulit luar berwarna cokelat keabu-abuan atau cokelat tua, permukaan agak kasar, bisa mengelupas tipis. Kulit dalam berwarna kemerahan atau jingga, menghasilkan getah putih susu (lateks) jika luka. Lateks ini khas pada famili Sapotaceae dan bersifat lengket.
Daun (Folium)
Jenis daun: Tunggal, tersusun spiral atau terkumpul di ujung ranting. Bentuk: Elips hingga lonjong (elliptic-oblong), panjang 7–25 cm, lebar 3–10 cm. Ujung: Meruncing (akuminata); pangkal: membulat atau membaji. Permukaan atas: Licin, mengilap, hijau tua; bawah: lebih pucat, kadang berbulu halus. Tulang daun: Menyirip, menonjol di sisi bawah daun. Petiol (tangkai daun): Panjang sekitar 1–3 cm.
Bunga (Flos)
Jenis kelamin: Bunga hermafrodit (berkelamin ganda). Letak: Tumbuh soliter atau berkelompok (fascicled) pada ketiak daun (aksilar). Ukuran: Kecil, berwarna putih kekuningan, harum lembut. Kelopak (sepal): 6 helai, tersusun dalam dua lingkaran. Mahkota (petal): 6 helai, bentuk tabung di bagian bawah, mekar di bagian atas. Benang sari (stamen): 12, terdiri dari 6 fertile dan 6 staminodia (tidak subur). Ovarium: Superior (terletak di atas dasar bunga), berbulu halus, berisi beberapa ruang ovula.
Buah (Fructus)
Jenis: Buah beri (berry), bentuk bulat telur (ovoid) atau lonjong, panjang 2–4 cm. Permukaan buah: Halus, berwarna hijau saat muda, menjadi kuning kecokelatan atau cokelat saat masak. Ciri khas: Ujung buah sering memiliki tonjolan seperti paruh → asal nama “rostratum” (berparuh). Biji: 1 atau 2, besar, keras, mengkilap, berwarna cokelat tua hingga hitam.
Manfaat
Ekologi dan Peran Ekosistem:
a. Menempati lapisan kanopi tengah hingga atas pada struktur hutan.
b. Buahnya menjadi sumber makanan bagi burung, kelelawar pemakan buah, dan primata, membantu penyebaran biji (zookori).
c. Membantu regenerasi hutan tropis secara alami.
Kayu, Getah, Konservasi:
a. Kayu:
o Tahan lama dan kuat, digunakan untuk:
- Bangunan (balok, tiang)
- Furnitur
- Lantai dan kayu pertukangan lainnya
b. Getah:
o Mengandung lateks putih susu, dapat dimanfaatkan sebagai perekat atau bahan karet alami, meski kini penggunaannya jarang.
c. Konservasi:
o Walaupun P. rostratum belum tergolong spesies terancam secara global, habitatnya dapat terancam oleh deforestasi dan konversi lahan.