Informasi Umum
Pertama kali diterbitkan dalam Species Plantarum halaman 513 (1753). Wilayah asal spesies ini mencakup Kenya hingga Mozambik, Samudra Hindia bagian barat, Asia tropis dan subtropis hingga Pasifik. Status konservasi adalah Least Concern Nama di Indonesia adalah bintangur, nyamplung, kapur naga, penaga, mentangur.Tanaman ini berupa pohon dan tumbuh terutama di bioma hutan tropis basah. Nama ilmiah Calophyllum inophyllum diperkenalkan oleh seorang botanis bernama Carolus Linnaeus pada tahun 1753. Tanaman ini memiliki berbagai manfaat lingkungan dan sosial, termasuk sebagai pakan hewan, racun, obat, pakan invertebrata, serta bahan pangan. Asli dari: Aldabra, Kepulauan Andaman, Banglades Kepulauan Bismarck, Kalimantan, Kamboja, Kepulauan Caroline, Kepulauan Chagos, Pulau Christmas, Kepulauan Cocos (Keeling), Komoro, Kepulauan Cook, Fiji, Kepulauan Gilbert, Hainan, Hawaii, India, Jawa, Kazan-retto, Kenya, Kepulauan Laccadive, Laos, Kepulauan Sunda Kecil, Madagaskar, Malaya, Maladewa, Maluku, Kepulauan Mariana, Kepulauan Marshall, Mauritius, Mozambik, Kepulauan di Selat Mozambik, Myanmar, Nansei-shoto, Nauru, Kaledonia Baru, Papua Nugini, Kepulauan Nikobar, Niue, Ogasawara-shoto, Filipina, Queensland, Rodrigues, Réunion, Samoa, Kepulauan Santa Cruz, Seychelles, Kepulauan Solomon, Laut Cina Selatan, Sri Lanka, Sulawesi, Sumatera, Taiwan, Tanzania, Thailand, Tokelau-Manihiki, Tonga, Tuvalu, Vanuatu, Vietnam, Kepulauan Wallis dan Futuna.
Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Streptophyta
Kelas : Equisetopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Calophyllaceae
Genus : Calophyllum
Spesies : Calophyllum inophyllum L.
Habitat
Ketinggian tempat: Umumnya tumbuh dari permukaan laut hingga 200 meter di atas permukaan laut. Kondisi tanah, menyukai tanah berpasir, lempung berpasir, atau tanah aluvial. Tahan terhadap tanah miskin unsur hara, dan sering ditemukan di tanah berkapur.Toleran terhadap semprotan air laut (salt spray) dan genangan air sesaat. Mampu tumbuh di daerah yang kering maupun yang memiliki kelembapan tinggi. Cocok di iklim tropis basah dan pantai tropis dengan curah hujan sedang hingga tinggi (± 1.000–4.000 mm/tahun). Menyukai suhu hangat, rata-rata 20–35°C. Penyinaran: Merupakan pohon pencinta cahaya (heliotropik) dan tumbuh optimal di tempat terbuka atau tepi hutan. Biasanya ditemukan di pesisir pantai, tepi sungai, dan tepi laguna, kadang-kadang mencapai area hutan dataran rendah. Dapat berfungsi sebagai penahan angin, abrasi, dan erosi pantai, karena akarnya kuat dan menyebar luas. Kadang ditanam secara reklamasi pantai atau sebagai pohon pelindung di daerah pesisir.
Akar (Radix)
Tipe akar: Akar tunggang (akar primer berkembang dominan), disertai akar lateral yang menyebar luas. Struktur: Berkayu (lignosus), kuat menembus tanah pasir maupun tanah pantai berpasir–berkarang. Fungsi tambahan: Akar dapat membantu menstabilkan tanah di wilayah pesisir dan tahan terhadap salinitas sedang. Asosiasi: Kemungkinan membentuk asosiasi dengan mikroorganisme tanah, termasuk jamur mikoriza.
Batang (Caulis)
Tipe batang: Tegak (erectus), silindris, dan berkayu keras. Permukaan batang: Kulit batang berwarna cokelat tua hingga abu-abu, berkerak dan retak-retak pada tanaman tua. Diameter batang: Bisa mencapai >1 m pada individu dewasa. Pertumbuhan sekunder aktif melalui aktivitas kambium vaskular, menghasilkan jaringan xilem dan floem. Kulit batang dan kayu mengandung resin kuning yang khas dan aromatik, disebut tamanol, dengan aktivitas biofarmakologis.
Daun (Folium)
Tipe daun: Tunggal, tersusun secara berhadapan (oppositus), bertangkai pendek (petiolatus). Helaian daun: Bentuk elips lebar sampai oval (obovatus–ellipticus), dengan ujung membulat atau tumpul (obtusus), dan pangkal menyempit (cuneatus). Tepi daun: Rata (integra). Permukaan: Mengkilap dan tebal seperti kulit (kutikularis), berwarna hijau tua di atas dan lebih pucat di bawah. Pertulangan: Paralel–pinnatinervis, tulang daun utama terlihat jelas dan sejajar, seperti garis halus menyilang diagonal. Ciri khas: Daun mengandung saluran resin di dalam mesofil yang menghasilkan eksudat aromatik.
Bunga (Flos)
Tipe bunga: Bunga majemuk tersusun dalam malai terminal atau aksilar (corymbiform panicles). Warna: Putih bersih dengan aroma harum. Kelamin: Bunga hermafrodit (memiliki benang sari dan putik). Perhiasan bunga: 4 sepal (kelopak) berwarna kehijauan atau putih kekuningan. 4–8 petal (mahkota), berbentuk elips, berwarna putih. Benang sari (stamen): Banyak (>50), tersusun melingkar, bebas dan berwarna kuning. Putik (pistillum): 1 buah ovarium superior, unilokular, dengan satu tangkai putik dan kepala putik bercabang kecil.
Buah (Fructus)
Tipe buah: Buah batu (drupa), berdaging dan memiliki biji keras di dalam. Bentuk: Bulat atau sedikit oval, berdiameter sekitar 2–4 cm. Warna buah: Hijau saat muda, menjadi kuning hingga keunguan saat masak. Kulit buah: Tipis, daging buah bergetah dan sedikit pahit. Biji: Tunggal (monosperma), keras, berwarna cokelat, mengandung minyak tamanu (bermanfaat secara medis dan kosmetik).
Manfaat
Manfaat Ekologis
a. Penahan abrasi dan angin laut: Cocok ditanam di wilayah pesisir karena tahan terhadap semprotan air laut dan salinitas tinggi.
b. Pencegah erosi: Sistem akar yang kuat dan menyebar membantu menstabilkan tanah pantai dan tepi sungai.
c. Reklamasi dan rehabilitasi lahan: Sering digunakan dalam program penghijauan pesisir, reklamasi pantai, dan restorasi ekosistem mangrove.
d. Pohon pelindung: Ditanam sebagai peneduh di daerah panas dan kering, serta di jalur hijau kota-kota pesisir.
Sumber Energi dan Industri
a. Minyak biji nyamplung:
o Mengandung kadar minyak tinggi (sekitar 60–70%)
o Diolah menjadi biofuel/biodiesel ramah lingkungan
o Dapat digunakan untuk minyak lampu, pelumas, sabun, dan kosmetik alami
b. Potensi sebagai bahan bakar alternatif di daerah terpencil yang belum terjangkau listrik.
Manfaat Obat Tradisional
a. Minyak nyamplung (topikal) digunakan untuk:
o Mengobati luka, infeksi kulit, eksim, rematik, bisul, dan ruam
o Bersifat antibakteri, antiinflamasi, dan penyembuh luka
b. Ekstrak daun dan kulit kayu digunakan secara tradisional untuk:
o Antioksidan dan antimikroba
o Mengatasi peradangan, demam, dan gangguan pernapasan
c. Mengandung senyawa bioaktif seperti kalanolida, yang memiliki potensi sebagai antivirus dan antikanker (sedang diteliti).
Kayu dan Produk Konstruksi
a. Kayunya keras dan tahan lama, berwarna cokelat kemerahan.
b. Digunakan untuk:
o Bangunan ringan, tiang, papan
o Pembuatan perahu (karena tahan air)
o Furnitur, ukiran, dan kerajinan tangan
c. Penggunaan kayu dibatasi untuk menjaga keberlanjutan, karena pertumbuhan pohonnya relatif lambat.